Tampilkan postingan dengan label Agama-Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama-Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 April 2013

Pernyataan Pertobatan Mantan Gembala-Gembala Tuhan



Ini merupakan Pernyataan Sikap Forum Pertobatan Mantan Gembala-Gembala Tuhan

PENGANTAR
Kami adalah sekelompok Pendeta yang telah bertobat kepada Tuhan Allah dengan sesungguhnya. Dahulu kami adalah umat agama dari 4 kelompok besar agama di luar Katolik & Kristen. Dulu kami masuk Kristen karena tertarik dengan nilai-nilai ajaran kasih dalam Kristus & janji keselamatan-Nya yang akan mengantar kita semua masuk kerajaan surga dengan penuh kepastian. Walau akibat iman Kristus ini kami harus menerima fakta dikucilkan keluarga kami, kami terima semuanya dengan lapang dada waktu itu, apalagi penghiburan para Gembala Gereja selalu menyatakan orang tua kami, keluarga kami, teman-teman kami & orang -orang diluar Kristen adalah orang berdosa yang sesat dalam iman. Mereka adalah para penyembah setan & kitab sucinya diturunkan oleh Raja Iblis.. Kami sangat mensyukuri wejangan para Gembala Tuhan ini.

Apalagi setelah dibaptis, kami sangat diperhatikan, kami disekolahkan di Sekolah Misi Alkitab di kawasan Blok M - Jakarta, selama 6 bulan saja & kami lulus dengan menyandang gelar Sarjana Theologi. Karena kami orang bertobat, sekolah Misi Alkitab cukup ditempun 6 bulan saja, tidak perlu bertahun-tahun seperti yang lainnya. Kami juga diberi uang saku bulanan yang lebih dari cukup, jauh berbeda ketika kami masih dalam agama kami dulu, hidup serba kekurangan & miskin. Bahkan pada saat awal kemurtadan kami ini, kami diundang untuk berceramah keliling Indonesia. Walaupun kami bukan mantan Ulama, Bikhu atau Pandhita, kami mengaku kepada umat bahwa kami adalah mantan pemuka agama, di Sekolah Misi Alkitab kami diajarkan untuk berperilaku & menghapal beberapa bacaan doa agama kami dahulu untuk memberi kesan bahwa kami benar-benar bekas pemuka agama. Bahkan Gereja membantu membuatkan kami ijasah-ijasah palsu, surat-surat keterangan & dokumen yang diperlukan untuk membuat bahwa kisah kesaksian kami adalah benar adanya. walaupun kami bukanlah bekas pemuka agama. Bahkan teman kami yang Islam sampai dibuatkan foto repro yang sangat hebat, dia memakai sorban & berjubah panjang, lalu di fotonya dibuat seolah pernah berfoto bersama beberapa tokoh Islam terkemuka seperti Mubaligh Kondang KH Zainuddin MZ & KH. Abdurrahman Wahid segala.. Kami juga disuruh menandatangani sebuah surat kesaksian yang panjang yang dipersiapkan oleh para staf Gembala Tuhan Bapak Ev. Soeradi Ben Abraham, dimana disana kami membuat kisah kesaksian yang akan dibukukan & disebarluaskan dikalangan domba-domba Gereja.

Waktu itu kondisi di atas kami terima saja, mau bagaimana lagi?, kami sudah tak punya siapa-siapa lagi., tak punya harta & penghasilan, menjual iman ini adalah pilihan hidup yang sangat menjanjikan. Bagaimana tidak?, kami keliling Indonesia, bahkan sampai ke negara tetangga Singapura segala, naik pesawat kelas bisnis, menginap di hotel berbintang, memakai jas mewah, dielu-elukan orang banyak seperti artis, masuk koran & majalah rohani, & menerima pendapatan bulanan yang sangat besar., siapa yang tak ingin, tokh kami pikir waktu itu, murtad ini jauh lebih baik dibanding kami jadi pencuri, pembunuh atau germo lokalisasi..

Entah berapa ratus kali kami berdusta, disetiap KKR yang kami ikuti secara terpisah, dimana ada skrenario yang disiapkan Gereja, kalau berlabel penyembuhan Ilahi, para Pendeta berdoa memanggil Roh-Roh Jahat & menyuruh beberapa dari para pelayan Gereja untuk berpura-pura menjadi jemaat yang sakit., & saat acara penyembuhan Ilahi dia harus berpura-pura sakit parah & mendadak sembuh ketika diurapi oleh kami.... Ya Tuhan ampunilah dosa masa lalu kami, ini kan tak lebih dari gaya tipu-tipu tukang obat pinggir jalan?.. Bahkan Jemaat terlihat sangat histeris, sampai ada yang berteriak histeris & berjingkrak-jingkrak segala..., mirip sekali acara nonton konser musik rock brutal yang ditonton para ABG, atau mirip suasana orang-orang yang tripping di Diskotek & Pub... Bahkan sehabis acara KKR ada seorang jemaat wanita muda yang menghampiri rekan kami Ev. Andi Widjaja (yang paling ganteng diantara kami), menyatakan diri siap melayani dia, karena yakin bahwa persembahan tubuhnya yang molek itu adalah untuk melayani jiwa para roh kudus yang menyertai kami.... Bung Andi lalu bilang, "kalau begitu ayo ikut ke kamar saya", wanita itupun mengikuti beliau & melayaninya sehari penuh hingga 5 ronde.... Kami tahu persis cerita ini karena kamipun memperoleh giliran menggarap wanita-wanita jemaat serupa ini diberbagai kesempatan KKR keliling Indonesia.

Hampir selama 6 (enam) tahun melayani domba-domba Gereja dalam rangkaian KKR yang melelahkan, menimbulkan kejenuhan di hati kami. Kadang kami berempat kongkow-kongkow di Mc. Donnalds Sarinah Thamrin & saling bertukar cerita..lalu jalan bersama keliling kota. Kami tak mungkin ke Kafe atau tempat hiburan malam, Diskotik sambil tripping & nyabu segala., karena menurut kami hal ini tak baik untuk pekerjaan kami sebagai Pelayan Gembala Tuhan, walaupun rekan-rekan gembala lainnya sering melakukan hal itu, kami bahkan sering dibilang kolot & kampungan oleh teman-teman Pendeta lainnya, akibat tidak ikut tripping & nyabu bersama rekan gembala lainnya. Bahkan beberapa rekan Gembala yang sekarang terkenal seperti Gilbert Lumoindang konon, menggunakan Shabu-Shabu & menenggak 1 butir pil Ectassy sebelum memimpin kebaktian di GL Ministry.. Menurut beliau Shabu-Shabu & pil Ectassy adalah sarana jiwa untuk dapat bertemu dengan Roh Kudus & agar Roh Kudus itu selalu mengilhami kita (katanya)..... Itulah sebabnya kenapa para Pendeta & Pengkhotbah Kristen selalu energik & tampil penuh percaya diri disetiap Kebaktian ataupun KKR, karena mereka menggunakan dopping berupa pil Ectassy atau Nyabu terlebih dahulu, bahkan terkadang keduanya sekaligus..

PENYEBAB KESADARAN & PERTOBATAN KAMI
Bermula dari cerita rekan kami Bung Nico (Nicolas), perihal tetangga barunya yang mengadakan kursus TPA bagi umat Islam, Bung Nico awalnya gusar sekali, karena anak-anak kecil Islam itu selalu membaca surat Al-Kafiruun, yang dia tahu persis artinya, dia pikir nih tetangga gue nyindir gue kali..awas aku murtadkan semiuanya.. & Bung Nico bersumpah untuk mewartakan kabar gembira Cinta Kasih Yesus itu kepada mereka.
Bung Nico suatu waktu memberanikan diri bertemu para pengajar TPA itu, lalu berkata: mari kita buktikan siapa hamba Tuhan sebenarnya, para pengajar itu Cuma tersenyum: "maaf kami tak melayani ajakan anda", Bung Nico bilang: "Kalian pengecut..." Mereka jawab: "Siapa bilang, kalau Bung Nico memaksa silahkan mulai dengan anak-anak itu saja" Bung Nico Menjawab: "Tapi saya nggak nanggung akibatnya ya..?"
Lalu Bung Nico mengumpulkan anak-anak kecil itu, dia bercerita tentang kisah pengorbanan Tuhan yesus..anak-anak itu mendengarkan dengan seksama..tapi kemudian apa yang terjadi..? Anak-anak itu tertawa terbahak-bahak semua & seorang anak kecil berusia 10 tahun lalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit & balik menjelaskan apa itu Alkitab & sejarahnya serta siapa Yesus sesungguhnya..
Bung Nico terpana., lalu pulang dengan perasaan malu..semenjak itu penjelasan anak kecil itu selalu membayang dipikirannya..lalu dia coba baca Alkitab secara urut, suatu hal yang sangat dilarang oleh Gereja karena bisa menyesatkan iman.. Diketemukanlah ayat-ayat yang sangat membingungkan.. Bung Nico juga lalu ingat ayah-ibunya & teman-teman lamanya, kalau dipikir-pikir sangat beda sekali dengan rekan-rekan gembalanya di Gereja.

Kami berempat lalu berdiskusi dari hati ke hati, eh ternyata semua juga mempunyai pikiran & perasaan yang sama, sepertinya kita semua hidup dalam keimanan yang semu, kami adalah gembala-gembala umat, tetapi yang kami jalankan hanyalah dusta & kepalsuan yang ditawarkan kepada orang-orang yang haus akan kesegaran rohani....

Sejak saat itu, kalau memimpin KKR & Kebaktian, kami rasanya ingin muntah & berteriak kalau ada yang membacakan kisah kesaksian palsunya, bagaimana tidak palsu?, Kalau ada seorang bekas pencopet beragama Islam yang seumur hidupnya tak tahu ajaran Islam & tak pernah bersekolah agama, dengan lantang menyatakan dirinya mantan calon Ustad?, padahal kisah karangan itu kamilah yang menyusunnya.?.. Kisah-kisah kesaksian palsu karangan kami bahkan sudah banyak yang dibukukan.

Lalu secara sembunyi-sembunyi kami berkunjung ke rumah ustad M. Hanafi tetangganya Bung Nico (Ev. Nicolas Albert Gerungan), kami utarakan kegundahan hati kami.. sungguh ajaib & mengejutkan pertanyaan Ustad Muda ini, dia tidak langsung menyodorkan 2 kalimat Syahadat untuk kami baca, tetapi menyuruh kami untuk mulai merenungkan & mohon petunjuk Tuhan... Dia juga Tanya apa agama asal kami & menyarankan untuk menjalin tali persaudaraan kami dengan bekas keluarga kami yang sekarang mengucilkan kami.

Akhirnya Bung Nico yang pertama memutuskan kembali masuk Islam, sementara itu rekan Ev. Vincentus Rahardi Sudjatmiko (Gembala Kristen Pantekosta bertobat kembali ke agama Budha), memutuskan untuk mengunjungi orang tuanya & kemudian dikirim ke sebuah Vihara di kawasan Pondok Cabe, rekan Ev. Gede Astra Suartiasa (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Hindu) mendatangi sebuah tempat sembahyangan agama Hindu di rumah seorang pelukis Bali dikawasan Bintaro & rekan Ev. Andi Widjaja (Kristen (Gembala Gereja Nehemia) bertobat kembali ke agama Kong Hu Chu), mendatangi Kelenteng di Kawasan Glodok yang baru dibuka kembali. Hampir selama 2 bulan kami jarang bertemu lagi, kami juga secara mendadak memutuskan untuk tidak akan kembali lagi ke Gereja kami. Bayangkan, betapa geramnya para pengurus Gereja, mereka mencari kami ke-mana-mana.. Teror lewat HP-pun gencar dilakukan, mereka pertama-tama hanya marah masalah jadwal-jadwak Kebaktian & KKR yang jadi berantakan, tetapi ketika. kami secara terpisah menyatakan kami tak mau kembali lagi ke Gereja & akan kembali bertobat ke agama asal kami, terorpun dimulai, mulai dari telepon gelap hingga upaya intimidasi secara fisik melalui teror-teror. Kenyataan ini membuka mata-hati kami, betapa jahatnya mereka ini, jauh lebih kejam dibanding keluarga, orang tua & teman-teman kami yang hanya membenci & tak mau kenal lagi dengan kami ketika kami dibaptis, tetapi kaum Kristen bekas Gembala & Domba kami sangat murka sekali & berencana menghabisi kami segala.... Akhirnya kami memutuskan untuk bertobat secara terpisah & kembali ke agama masing-masing.

Walaupun bekas Pendeta, kami tidak serta merta bisa menjadi pemuka agama. Bung Nico sekarang ini digembleng di sebuah pondok pesantren di kota Sukabumi, rekan Gede sekarang sedang digembleng oleh seorang Pandhita di kawasan Ubud - Bali, rekan Rahardi sekarang sedang bertapa & belajar agama di sebuah rumah ibadah Budha di Pondok Cabe - Ciputat, sedangkan rekan Andi sekolah agama Kong Hu Chu di luar negeri, yaitu di Taiwan.

TINJAUAN PANCASILA
Seminggu yang lalu, di awal bulan Maret 2001 ini, via internet kami berdiskusi tentang Krismon & krisis negara Indonesia, lalu nyerempet-nyerempet masalah iman kami & masalah Pancasila & Bhinneka Tunggal Ika. Kami lalu baca Pancasila & terkejut ketika membaca Sila Pertama Dasar Negara Indonesia berbunyi: KETUHANAN YANG MAHA ESA...

Ini berarti bahwa sesungguhnya konsep Ketuhanan yang diakui oleh bangsa Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, tiada beranak & tiada diperanakkan, tiada beroknum ataupun bersekutu dengan unsur apapun. Artinya tiada Tuhan selain Allah. Jadi agama yang punya konsep Ketuhanan yang semu seperti Kristen dengan konsep Allah Tritunggal Yang Kudus dalam dogma Trinitas, jelas-jelas bertentangan dengan konsep dasar negara Indonesia......

Kenapa agama Kristen dibiarkan keberadaannya?, mungkin inilah perwujudan dari rasa & jiwa besar para pemimpin bangsa Indonesia. Dilema ini sama seperti pengakuan kita akan eksistensi para penganut aliran kepercayaan, animisme & komunis. Keberadaan agama Kristen sama & sejajar dengan agama animisme, aliran kepercayaan & komunis yang kita perkenankan keberadaannya di bumi Indonesia..

Bahkan agama Kristen kedudukannya jauh lebih rendah & lebih hina dibanding agama Budha, Hindu & Kong Hu Chu sekalipun, karena dalam ketiga agama ini, walaupun mereka memiliki konsepsi sbb: Manusia utama Sidartha Gautama dalam ajaran Budha, tetapi di atas Sidartha Gautama ada Tuhan Maha Kuasa yang kedudukannya jauh lebih tinggi dibanding Sang Budha itu sendiri. Dalam agama Hindu, walau banyak dewa, tetapi ada Sang Hyang Widhi penguasa tunggal tertinggi di atas para dewa itu. Dalam Kong Hu Chu juga sama seperti ajaran Hindu, ada Sang Pencipta Tunggal yang berkuasa atas semua dewa-dewi dalam mitologi China.

Melihat penjelasan di atas saja sudah jelas bahwa agama Kristen itu jauh lebih rendah & hina dibanding agama Budha, Hindu & Kong Hu Chu. Kedudukannya hanya sejajar dengan paham agama animisme & komunis....
Pemujaan Nabi Isa sebagai Tuhan membuktikan adanya Paganisme Baru ini, sebagai agama sempalan Yahudi (ini terjadi karena Paulus dari Tarsus beserta Petrus ternyata kecewa berat akibat ambisinya menjadi Rabbi Yahudi di tolak Sinagoge Betlehem).

Kembali ke dasar negara, jika saja kita semua tegas & tak punya rasa belas kasihan kepada para penyembah Nabi Isa ini, sudah dari dulu sejak kemerdekaan Indonesia, agama Kristen dinyatakan sebagai agama terlarang, karena berbau kolonialisme serta bertentangan dengan Pancasila.. Bahkan jika sekarang saja ada yang menggugat keberadaan agama Kristen & menuduh para pengikutnya dengan pasal subversi ini bisa dibenarkan secara hukum....

KENYATAAN SEJARAH BANGSA
Apalagi bila dikaitkan dengan fakta sejarah bahwa agama ini dibawa oleh para penjajah Belanda, para pengikut pertamanya adalah pribumi pengkhianat bangsa, yang bekerja sebagai opas & tentara bayaran Belanda, mata-mata Belanda & penjual informasi perjuangan para pahlawan demi gepokan Gulden Belanda.. Memang ada beberapa pahlawan nasional yang beragama Kristen, tapi mohon diingat, para pahlawan itu tidak pernah ikut kebaktian di Gereja-Gereja mereka yang dipimpin Pendeta Belanda.. Para pahlawan itu hidup bersama orang-orang pribumi yang beragama Islam, Hindu & Budha. Ketika Indonesia merdeka & sang Meener meninggalkan mereka, para pengkhianat bangsa ini serta merta bergabung dengan para orang tua kita menyatakan mengutuk penjajahan Belanda, tanpa rasa malu sedikitpun. Tapi semua pihak berjiwa besar. Kita memaafkan kesalahan mereka.

Tapi namanya juga orang tak tahu diri, ketika agresi Belanda datang kembali, mereka lalu ikut tuannya. mendirikan RMS di Maluku segala. Bahkan beberapa diantaranya ikut pulang ke Belanda, tapi biarlah.. Setelah perundingan damai dengan Belanda di tahun 1950-an, Indonesia akhirnya merdeka, para pengkhianat yang beragama sesat bernama Kristen ini diakui keberadaannya, walaupun sebenarnya bertentangan dengan Pancasila.

HIMBAUAN UNTUK PARA GEMBALA LAINNYA YANG BELUM BERTOBAT
Nah umat Kristiani..hendaklah renungkan fakta ini, malulah pada diri sendiri & hargailah umat beragama lain, kami umat Islam, Budha, Hindu & Kong Hu Chu sudah lebih dari sabar menghadapi tingkah kalian.. mohon sadarlah & beribadahlah dengan cara masing-masing, jangan lagi mengirim penginjil-penginjil sesat kalian ke Mesjid-Mesjid kami, ke Vihara-Vihara kami, ke Kuil-Kuil kami, ke Kelenteng-Kelenteng kami, atau berusaha memurtadkan umat-umat kami yang kebetulan ilmu agamanya kurang, jangalah kalian ulangi lagi perbuatan sesat & tidak terpuji ini. Janganlah beli iman umat kami yang miskin & bodoh dengan beras & janji-janji muluk pekerjaan indah. Mereka miskin jangan lagi diberi impian palsu.. Mereka bodoh tapi janganlah manfaatkan kebodohan mereka dengan cara kalian menukar agama mereka dengan agama sesat kalian. Kemarin kami baru menemukan sebuah kisah nyata, bahwa di sebuah desa di pelosok Sukabumi, suatu desa terpencil di kaki gunung, yang menyatakan ketidaktahuannya & terkejut ketika ada yang bilang bahwa kertas selembar yang ia tunjukkan pada orang lain itu adalah surat Baptis & ia telah menjadi Kristen.. Ia tak tahu hal ini..... Yang ia tahu kemarin ia menjual berasnya kepada mereka dengan harga yang sangat mahal, lalu diberi uang & disuruh membaca kontrak perjanjian & dimandikan.....ia tak tahu kalau ia telah dimurtadkan.....

PENUTUP
Mari kita hargai hak beribadah agama masing-masing, hargai hak kami beribadah jangan intimidasi umat kami dengan agama sesat kalian, yang hanya jadi bahan tertawaan anak SD saja..., bukankah kami juga sudah melindungi kalian dari jerat hukum subversi karena agama kalian itu bertentangan dengan dasar negara kita tercinta PANCASILA..YAITU SILA PERTAMA: KETUHANAN YANG MAHA ESA?. Untuk saudara-saudara sesama gembala atau domba Kristus, pintu pertobatan belum tertutup, marilah kita kembali KE JALAN TUHAN YANG BENAR...JALAN KAUM ISLAM DAN PARA SABI'IN...jika anda bekas umat Islam, Budha, Hindu & Kong Hu Chu, kembalilah ke agama masing-masing....

SEKIAN DARI KAMI
Atas Nama Forum Pertobatan Mantan Gembala-Gembala Tuhan Para Pendeta yang telah Insyaf:

Ev. Vincentus Rahardi Sudjatmiko (Gembala Kristen Pantekosta bertobat kembali ke agama Budha)
Ev. Nicolas Albert Gerungan (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Islam)
Ev. Gede Astra Suartiasa (Gembala Kristen Protestan bertobat kembali ke agama Hindu)
Ev. Andi Widjaja (Gembala Gereja Nehemia bertobat kembali ke agama Kong Hu Chu)
Siapa menyusul bertobat.....???


 

Read More ->>

Rabu, 24 April 2013

Berbagai Bentuk Keraguan dan Penolakan Terhadap Agama



A.      Empirisme
David Hume adalah tokoh fisafat Barat yang mengembangkan filsafat empirisisme Locke dan Barkley secara konsekuen.
Menurut David Hume manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuannya dari pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal yuaitu :
1.    Kesan –kesan ( Empressions )
     Kesan – kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, baik pengalaman lahiriah atau batiniah, yang menampakkan diri dengan jelas, hidup dan kuat seperti merasakan tangan terbakar.
2.    Idea –idea (ideas)
     Gambaran tentang pemgamatan yang redup , samar – samar yang dihasilkan dengan merenungkan kembali atau terefleksikan dalam kesadaran kesan – kesan yang diterima dari pengalaman.
David Hume menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan disbanding kesimpulan logika atau kemestian sebab – akibat. Menurut Hume akal tidak bias bekerja tanpa bantuan pengalaman. Untuk pertama kali kita tidak mungkin menangkap idea sebab – akibat karena kekuatan –kekuatan particular yang berjalan secara alami belum tertangkap oleh inderanya. Begitu juga akal tidak mampu sekaligus menyimpulkan berdasarkan satu peristiwa bahwa suatu sebab menimbulkan akibat tertentu karena hubungan itu bias berubah – ubah dan kasuistis.
Dengan penolakan terhadap teori kausalitas, Hume menghujat argument ontologism dan kosmologis tentang keberadaan Tuhan dan sekaligus membatasi kemampuan akal. Munculnya positivism yang dipelopori oleh Auguste Comte diwarnai oleh hide David hume, bahkan materialism bias dikatakan sebagai puncak dari empirisisme.
Para filsafat sebelum Hume percaya bahwa alam adalah akibat dari Tuhan adalah sebab alam. Menurut katyegori logika, keberadaan sebab lebih dahulu ketimbang akibat. Oleh karena itu, Tuhan sebagai sebab wajib ada, wujud-Nya mendahului alam, sedangkan alam sebagai akibat mungkin adanya wujud setelah Tuhan. Hume mulai menggugat dalil tersebut dengan menjungkilbalikkan teori kausalitas itu.
Menurut Hume ketika kita percaya kepada Tuhan sebagai pengatur ala mini berarti kita berhadapan dengan dilema, kita berfikir tentang Tuhan menurut pengalaman masing – masing. Hume tidak mampu membuktikan tuhan kecuali Tuhan itu tidak sempurna seperti dunia ini. Agama berasal dari penghargaan dan ketakkuatan manusia terhadap tujuan hidupnya. Itulah sebabnya manusia mengangkat dewa untuk disembah.
Alasan Hume menolak mukjizat,
Pertama, Sepanjang sejarah mukjizat tidak pernah diakui oleh sejumlah ilmuan dan kaum terpelajar.
Kedua, Sebagian manusia memang memiliki kecenderungan untuk percaya kepada peristiwa-peristiwa yang luar biasa, namun keyakinan ini tidak mendukung kebenaran mukjizat.
Ketiga, kajian peradaban membuktikan bahwa mukjizat cocok terutama bagi masyarakat terbelakang, sedangkan bagi masyarakat yang telah maju justru menolaknya.
Empat, semua agama wahyu memonopoli kebenaran mukjizat
Kelima, data sejarah yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa peritiwa-peristiwa di dunia ini jelas, seperti kita mengetahui tanggal terbunuhnya Julius Caesar.
     Hume meragukan eksistensi tuhan karena tidak ada argument yang kuat untuk membuktikan adanya tuhan baik secara a posteriori maupun a priori. Kita hanya tahu alam ini adalah materi, jika kita mengasumsikan adanya kesejajaran sebab akibat kita akan mengatakan bahwa alam ini disebabkan oleh sebab material, bukan sebab spiritual.
Menurutnya, sumber utama dari agama itu adalah tahayul. Manusia pertama kali menemukan cermin di alam kemudian menciptakan tuhan-tuhan sesuai selera masing-masing. Diantara kritikan hume yang tidak relevan adalah :
1.    Hume cenderung mempertentangan dua bentuk-bentuk teisme yang monopolar, dan mengabaikan sentesis dipolar. Dalam hal ini ada dua pola, yaitu mistisisme dan antropomorphisme. Dalam mistisisme tuhan berada dalam konsep positif tetapi tidak sempurna. Ketidak sempurnaan tuhan dapat digambarkan dari ketidak sempurnaan dunia.
2.    Hume mengabaikan peranan akal dalam menangkap realitas. Akal mampu menggabungkan kejadian-kejadian yang lampau dengan kejadia yang sekarang dan bahkan meramalkan sesuatu yang akan dating. Akal juga mampu memberikan ide-ide umum tentang fakta-fakta yang beragam.
3.    Hume terlalu meredusir semua realitas dalam kajian empiris sehingga dia terjerumus pada determinisme empiris
Skeptisisme hume terhadap agama juga berdasarkan determinisme yang kaku ini. Jika tuhan maha baik, kenapa tidak menghilangkan kejahatan. Unutk masalah ini, dapat dijawab dengan kejahatan adalah bagian dari dunia yang tidak sempurna. Kekuasaan tuhan tidak diukur lewat entitas yang tidak memlki kekuatan sama sekali atau lewat kekuatan natural. Tuhan memang berkuasa, manusia juga berkuasa. Tuhan maha bebas, dan manusia juga bebas. Tetapi kebebasan dan kekuasaan manusia lebih rendah tingkatannya ketimbang kebebasan dan kekuasaan tuhan. Dengan demikian kesempurnaan kebebasan tuhan diukur lewat kekurang bebasan manusia.
B.       Positivisme
Positivisme adalah kelanjutan dari empirisme. Kalau empirisme menekankan pada pengalaman saja dan merendahkan fungsi akal, adapun positivisme menggabungkan keduanya. Bagi positivisme, pengalaman perlu untuk mengumpulkan data sebanyak mungkin agar akal mendapatkan suatu hukum yang bersifat universal. Empisisme menerima pengalaman subjektif, sedangkan positivisme terbatas pada pengalaman yang objektif saja. Positivisme asal katanya adalah “positif”, berarti yang diketahui, yang factual, dan yang positif. Segala uraian yang di luar fakta atau kenyataan dikesampingkan. Oleh karena itu, metafisika ditolak. Apa yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak dan yang dapat diukur. Dengan demikian positivisme membatasi filsafat dan ilmu pada bidang gejala-gejala saja. Gejala-gejala disusun dalam hukum-hukum tertentu dengan melihat hubungan antara gejala tersebut. Setelah hukum itu tersusun, barulah seseorang melihat ke masa depan untuk mengembangkan ilmu.
Positivisme memandang agama sebagai gejala peradaban manusia yang primitive. August comte, tokoh positivisme, membagi umat sejarah manusia atas tiga tahap. Pertama, tahap teologis, yaitu manusia masih terpaku pada hakikat ‘batin’ segala sesuatu, sebab pertama, dan tujuan terakhir. Jadi seseorang masih percaya kepada Yang Mutlak. Tahap ini terbagi lagi atas tiga tahap, yaitu animisme, politeisme, dan monoteisme. Kedua, tahap metafisika, yaitu perubahan bentuk saja dari zaman teologis. Kekuatan-kekuatan adikodrati yang berupa dewa diganti dengan kekuatan yang abstrak lewat proses generalisasi. Ketiga, tahap positif, yaitu ketika orang sadar bahwa tidak ada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan, baik teologis maupun metafisis. Zaman ini sesesorang tidak mau lagi meneliti awal dan tujuan alam semesta, tetapi berusaha menemui hukum-hukum kesamaan yang ada di belakang fakta lewat pengamatan dan akalnya. Tujuan tertinggi dari zaman ini akan tercapai, bilamana segala gejala telah dapat disusun dan diatur di dalam satu fakta yang umum saja.
Comte berpendapat bahwa tiga tahap perkembangan manusia tidah saja berlaku bagi suatu bangsa atau suku, tetapi juga individu dan ilmu. Ketika masa kanak-kanak, seseorang menjadi teolog. Ketika remaja, dia menjadi metafisikus, dan ketika dewasa dia menjadi positivis. Ilmu juga demikian , pada awalnya ilmu dikuasai oleh teologis, sesudah itu diabstraksikan oleh metafisika, dan akhirnya baru dicerahkan oleh hukum-hukum positif.
Dengan demikian, seorang positivis membatasi dunia pada hal-hal yang bisa dilihat, yang bisa diukur, dan yang bisa dibuktikan kebenarannya. Karena agama maksudnya Tuhan tidak bisa dilihat, diukur, dan dibuktikan, maka agama tidak mempunyai arti dan faedah. Suatu pernyataan dianggap benar oleh positivisme apabila pernyataan itu sesuai oleh fakta, contoh ada badak bercula satu di ujung kulon. Jika memang ada badak bercula satu disana berarti, pernyataan itu benar, dan jika sebaliknya, berarti pernyataan itu salah. Ukuran ini, dalam epistemologi, disebut dengan teori korespondensi, yaitu suatu pernyataan dinyatakan benar apabila cocok dengan fakta empiris.
Positivisme mengatakan banyak pembicaraan yang tidak ada faedahnya dan tidak mengandung arti. Contohnya “Apa maksud Tuhan menciptakan alam?” pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang kosong dan tidak berarti. Pertanyaan yang demikian bukan saja karena kita tidak dapat mengetahui maksud Tuhan karena kita manusia, tetapi karena setiap susunan kata yang mengenai ketuhanan tidak mengandung arti apa pun. Begitu juga dalam bidang etika, positivisme lebih menekankan pada relativisme. Kalau ada pernyataan bahwa kezaliman itu jelek, maka kata tersebut tidak ada artinya karena jelek itu tidak dapat diukur dan diuji. Jadi, ungkapan dalam bidang moral bersifat emosional ynag tergantung pada perasaan kita tentang sesuatu dan bukan keadaan sesuatu itu sendiri.
Alfred yules ayer, salah seorang penganut positivisme berkata, “Argumen tentang pengalaman keagamaan adalah tidak benar. Bahwa banyak orang yang mempunyai pengalaman keagamaan adalah suatu yang menarik perhatian dari sudut psikologi, tetapi tidak berarti memang ada pengetahuaan keagamaan yang objektif. Begitu juga bila seseorang memiliki pengalaman moral, tidak berarti bahwa ada sesuatu hal yang dinamakan pengetahuan ideal. Orang yang percaya pada Tuhan dan orang yang memegang paham-paham moral mungkin percaya bahwa pengalamannya merupakan pengalaman yang berdasarkan pada pengetahuan. Tetapi, kalau dia tidak dapat menyusun pengetahuannya dalam susunan kata yang dapat dibuktikan secara empiris, kita dapat mengatakan orang itu menipu dirinya sendiri.” Selain itu para positivisme berpendapat, menyibukkan diri dalm hal-hal yang demikian (eksistensi tuhan, agama) adalah sia-sia. Lebih baik menyibukkan diri pada hal-hal yang mungkin diketahui, yaitu gejala-gejala yang telah dikenal atau yang disajikan dengan panca indra.
Dalam beberapa aspek, positivisme memiiki hal-hal yang konstuktif untuk kehidupan umat manusia. Sebab, positivisme menyuguhkan suatu metode ilmiah dan ukuran-ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan secara empiris. Dalam hal ini, positivisme menyumbangkan gagasan baru dalam kemajuan sains dan teknologi. Namun dalam aspek lain positivisme mempersempit alam pada hal-hal yang terukur saja, tidak mau melihat alam yang lebih besar dan luas. Bahkan kesenangan rohani atau penderitaan rohani dianggap sesuatu yang tidak berarti. Padahal kesenangan dan penderitaan, kendati tidak dapat diukur dengan tepat, tetapi dialami oleh semua orang hingga penganut positivisme sendiri.
Positivisme terlalu mereduksi kemampuan akal pada hal-hal yang dapat diuji secara empiris. Padahal daya akal tidak hanya tergantumg pada pengujian secar empiris. Akal mampu merekayasa sesuatu yang belum pernah dilihatnya dan akal juga mampu ‘menulis’ tanpa memakai kertas dan pulpen. Tulisan itu dapat digambarkan dengan pikiran saja tanpa perlu diempiriskan. Karena itu, positivisme sebenarnya harus mengakui hal yang demikian sebagai suatu realitas. Dengan demikian kepercayaan kepada tuhan berarti tidak mustahil karena daya akal mampu mencapai relitas dibalik dunia empiris.

C.      Materialisme
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme
Materialisme tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti : roh, hantu, setan dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati/supranatural. Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. Tidak ada Penggerak Pertama atau Sebab Pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.
Definisi materialisme
Kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme. Dalam kamus besar bahasa indonesia materi adalah bahan;benda;segala sesuatu yang tampak.
Masih dari kamus yang sama disebutkan bahwa materialis adalah pengikut paham (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan(harta,uang,dsb).
Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Ini sesuai dengan kaidah dalam bahasa indonesia. Jika ada kata benda berhubungan dengan kata isme maka artinya adalah paham atau aliran.
Ciri-ciri paham materialisme
Setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini:
1.      Segala yang ada(wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi(ma’dah).
2.      Tidak meyakini adanya alam ghaib
3.      Menjadikan panca-indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu
4.      Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakkan hukum
5.      Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlaq.
D.      Freudianisme
Istilah Freudianisme mungkin tidak lazim digunakan dibandingkan dengan Marxisme. Freudianisme bukan merupakan sebuah idiologi, tetapi lebih mendekati suatu paham atau aliran. Istilah Freudianisme tidak sepopuler Marxisme. Freudianisme digunakan dalam tulisan ini untuk menunjukkan pemikiran sigmund freud yang berpengaruh pada agama, terutama tinjauannya dari aspek psikologi. Kendati sigmund freud berbeda dengan karl marx dalam beberapa hal. Keduanya sama-sama menganut teori relativisme. Relativisme psikologi freud memperkuat relativisme sosiologi yang dikemukakan Marx. Baik Freud maupun Marx sebenarnya terpengaruh oleh Feurbach, terutama dalam konsep proyeksi. Namun, ferud menjadikan konsep proyeksi sebagai dasar ajarannya.
Salah satu jasa Freud yang banyak diakui oleh para ahli adalah teori psikoanalisis yang berguna untuk merawat orang sakit jiwa. Adapun pandangannya tentang agama tercantum dalam tiga karyanya, yaitu Totem and Taboo, The an illusion, dan Moses and Monotheism. Menurut Freud, hidup manusia mengandung misteri dan penderitaan. Seseorang merasakan penderitaan yang disebabkan oleh teman-temannya, penderitaan dari bencana alam, dan akhirnya penderitaan mengingat kematian, yang merupakan suatu misteri yang tidak mungkin diketahui artinya. Dalam keadaan yang amat sukar itulah manusia ingin mencari pemecahan.
Langkah pertama untuk memecahkan problem ini, menurut freud, adalah menganggap bahwa alam itu seperti manusia. Didalam alam ada kekuatan-kekuatan yang merupakan person. Menurut Freud, peristiwa seperti bencana alam adalah sesuatu yang jelas dan logis, semestinya manusia tidak lagi mencari sesuatu di balik itu. Menurut Sigmund freud, kepercayaan keagamaan itu tidak ada dasarnya sebab kepercayan tersebut dapat diterangkan dari segi psikologi.
Manusia, menurut sigmund freud, pada hakikatnya merasa aman dikandungan ibunya. Setelah dia lahir, mulai merasakan kenyamanan sehingga mulai terasing dan terpisah dari dunia nyaman. Dari sini muncul konflik dalam dirinya, yaitu keinginan untuk hidup nyaman dan tidak keterbedayaan untuk kembali pada dunia yang nyamn tersebut. Kemudian timbul kebimbangan. Kebimbangan ini mencari tempat yang aman,yaitu agama. Agamalah yang memberikan alternatif untuk itu. Artinya, orang yang beragama sama dengan orang yang putus asa dan lari dari kenyataan untuk mencari perlindungan sebagaimana dia dalam kandungan.
Agama, demikian freud, mengajarkan bahwa alam diciptakan oleh pencipta yang mirip manusia, tetapi lebih agung dan berkuasa dalam beberapa hal. Bahkan pencipta itu digambarkan sebagai Tuhan Yang Esa, kendati dipercayai juga tuhan yang banyak. Anehnya, tuhan itu selalu digambarkan dengan laki-laki bukan perempuan. Fungsi lain dari agama, menurut freud adalah ajaran moral yang dapat juga dihubungkan dengan masa kanak-kanak. Orang beragama, demikian freud, tidak ubahnya seperti anak kecil yang perlu bimbingan tersebut. Tuhan menjalankan dunia dengan memberikan aturan-aturan, pahala dan dosa.
Sebagaimana Feurbach dan Marx, Freud menginginkan manusia kembali pada kesejatian dirinya, yaitu dengan meninggalkan ilusi dan ketergantungan kepada tuhan. Dari penjelasan freud di atas ada beberapa hal yang perlu di koreksi. Pertama, freud menganalogikan Tuhan sebagai pencipta alam dengan bapak dan ibu sebagai ‘pencipta’ seorang anak. Bapak yang didunia jelas tidak bisa disamakan dengan tuhan sebagai pencipta.
Kedua, wawasan freud tentang tuhan hanya terbatas pada agama kristen, sebab ada tuhan yang fungsinya tidak sebagaimana digambarkan oleh freud, sebagai pencipta, pelindung, berkuasa, dan sebagai. Tapi, ada paham yang mengatakan bahwa Tuhan hanya sebab alam kemudian Dia tidak ada lagi berhubungan dengan alam, sebagaimana yang terdapat dalam paham deistik.
Ketiga, adalah suatu kesalahan jika Freud mengira Tuhan itu zat yang diinginkan manusia adanya. Memang benar ada orang yang mempunyai pengalaman keagamaan sesuai dengan keinginannya, tetapi tidak benar bahwa pengalaman keagamaan semacam itu bersifat umum. Freud mengatakan bahwa semua permintaan atau doa ditunjukkan untuk kepentingan yang berdo’a.
Keempat, Freud mengkritik orang beragama karena agama menyebabkannya menderita gangguan kejiwaan(neurosis). Kritikan ini dibantah oleh Ignace Lepp. Menurutnya tidak mungkin untuk mengidentikkan faktor neurosis pada saat seseorang tidak beragama. Selanjutnya dia mengatakan bahwa seseorang dapat saja menderita neurosis meskipun dia tidak beragama bila dia tidak memiliki pembawaan neurosis.
Latar belakang argumen ateisme dan teisme jelas berbeda. Ateisme bertitik tolak dari kenyataan empiris masyarakat di Eropa abad ke-18 dan ke-19 yang secara sosiologis banyak’tertipu ‘oleh tokoh agama. Adapun teisme berdasarkan pada kemestian logis, yang mustahil sesutau disebabkan oleh dirinya sendiri. Ateisme mengatakan bahwa manusia tidak perlu terikat pada hal-hal yang supernatural, tetapi harus terikat kepada kemampuan diri sendiri. Sebaliknya, teisme berpendapat bahwa manusia terikat dengan kekuatan supernatural dan tidak bebas menentukan nasib sendiri.
Disamping itu, teisme, juga mendasari argumennya pada keterbatasan manusia. Salah satu argumen teisme adalah manusia tidak mampu mengetahui semua realitas ini, dan realitas ini sangat kompleks dan serba teratur. Keteraturan dan ketrbatasan itu mendorong manusia berpikir tentang alam, termasuk manusia. Dalam ateisme pengetahuan manusia terbatas pada hal-hal yang bersifat materi dan tidak mengakui realitas diluar materi. Jadi, bedanya, ateisme memandang realitas hanya sebatas materi, sedangkan teisme melihat realitas tidak saja terbatas materi, tetapi ada realitas yang nonmateri.
Oleh karena itu, alternatif yang terbaik bagi orang yang beragama adalah keyakinan dan ditambah dengan argumen yang kuat. Keyakinan ditambah dengan pengalaman religius dan diperkuat dengan argumen rasional. Iman yang berasal dari wahyu untuk diri sendiri, sedangkan argumen rasional, disamping untuk memperkuat keyakinan juga untuk menangkis serangan dari berbagai pihak.
Serupa dengan behaviorisme adalah Freudianisme, mazhab yang lebih tua dari behaviorisme dan masih berpengaruh luas, yang menyatakan bahwa adalah insting yang bernama eros (insting hidup) dan tanatos (insting mati) yang menjadi penyebab dan landasan untuk menafsirkan segala tingkah laku manusia. Sedangkan nilai-nilai, demikian beberapa penulis kaum Freudian, tidak lain hanyalah mekanisme pertahanan diri, reaksi-reaksi formasi dan sublimasi-sublimasi. Dus, nilai-nilai tak memiliki dasar yang kokoh.
Di mata Sigmund Freud manusia adalah produk evolusi yang terjadi secara kebetulan. Dalam pandangannya, keberadaan manusia, kelahiran dan perkembangannya hanyalah sebagai akibat dari bekerjanya daya-daya kosmik terhadap benda-benda inorganik. Jadi, manusia hanya dipandang sebagai makhluk fisik, makhluk biologi. Ini suatu pemikiran yang jelas sangat dipengaruhi pemikiran Charles Darwin bahwa manusia tak lebih dan tak kurang hanyalah binatang.
Dalam kata-katanya sendiri, sebagaimana tertulis pada bukunya On Creativity and the Unconscious (1958). Freud menegaskan pendiriannya: Dalam gerak perkembangannya ke arah peradaban, manusia memperoleh posisi berkuasa atas sesama makhluk dalam kerajaan binatang. Tapi, tak cukup puas dengan superioritas ini, manusia mulai menciptakan jurang pemisah antara sifatnya dengan sifat makhluk lainnya. Ia menyangkal bahwa yang selain dirinya juga memiliki akal, sedang dirinya sendiri dipertautkan dengan suatu jiwa yang abadi, dan mengklaim dirinya bercitra Ilahi agar dapat memutuskan tali persamaan antara dirinya dengan kerajaan binatang… Kita tahu bahwa setengah abad lebih sedikit yang silam, penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan oleh Charles Darwin dan para koleganya telah mengakhiri kecongkakan manusia ini. Sesungguhnya, manusia bukanlah makhluk yang berbeda apalagi lebih unggul daripada binatang…
Tak aneh jika, seperti dikatakan Frank G. Goble, selama karirnya Freud berusaha mereduksikan tingkah laku manusia ke dalam ukuran kimiawi dan fisik belaka. Model psikologi mekanistiknya menyembulkan kesimpulan bahwa kesadaran manusia semata-mata merupakan derivat dari proses materialisme, sama seperti teori kesadaran Marx. Ucapannya, bahwa pada waktu seorang manusia mulai bertanya mengenai apa tujuan hidupnya maka pada waktu itulah gangguan kejiwaannya muncul, menggambarkan betapa ia seorang materialis sejati. Dari situ mudah dipahami jika Freud menganggap konsep Tuhan sebagai delusi ciptaan manusia.
Alhasil, kedua mazhab Psikologi itu sama-sama deterministik. Manusia diasumsikan tak memiliki kebebasan untuk menentukan tingkah lakunya sendiri, sehingga mustahil manusia dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindakan-tindakannya. Tak ada nilai benar dan salah karena bukan kemauan manusia sendiri yang menggerakkan tingkah lakunya. Sebagai makhluk yang keberadaannya di muka bumi ini hanyalah karena kebetulan, manusia tak perlu mempertanyakan tujuan dan makna hidupnya. Dengan demikian jelaslah, sekurang-kurangnya pada tataran filosofis, kedua mazhab psikologi ini bertentangan secara diametral dengan pandangan Islam, yang menegaskan keniscayaan tuntutan pertangungjawaban moral dari setiap tindakan manusia.
Read More ->>